MENYAMBUT SEKS BEBAS SEJAK USIA DINI

Manusia sebagai mahluk yang sudah berevolusi, mempunyai berbagai macam cara untuk mendapatkan kenikmatan dalam menjalani kehidupan, melakukan hubungan seks adalah salah satunya. Kebutuhan mengenai seks merupakan kebutuhan alami manusia sebagai mahluk hidup. Dorongan syaraf agar bisa melepaskan tegangan yang tercipta dari mekanisme tubuh yang bertujuan untuk melakukan proses pembuahan sel telur dan melangsungkan keturunan spesies manusia inilah yang kini berubah menjadi persoalan kenikmatan dan kepuasan.

Berbicara mengenai seks bebas, hal ini bisa semata-mata bisa dikambing hitamkan dengan modernisasi. Meskipun orang mengenal persoalan berganti pasangan hubungan seks sudah dari zaman dahulu. Akan tetapi masyrakat kuno sepertinya mempunyai aturan tersendiri menyangkut hubungan seks yang hanya dilakukan ketika sudah didasari ikatan pernikahan (walaupun ada kisah salah satu kaum Nabi Luth yang membudayakan perilaku seks bebas). Perasaan dan permasalahan yang dimiliki oleh manusia juga memberi peran bahwa terkadang dibutuhkan lebih dari satu orang untuk melakukan hubungan seks semasa hidupnya. Manusia memang tidak bisa selalu setia dengan hanya satu pasangan dalam masa hidupnya, yang bahkan menurut beberapa penelitian ada jenis hewan yang setia hanya dengan satu pasangannya saja (konon salah satunya pinguin).

Pada era modern dimana informasi mudah menyebar dan mudah didapat, persoalan hubungan seks juga ikut terbawa dalam arusnya. Pembicaraan mengenai hubungan seks di luar nikah atau seks bebas yang dulu dianggap tabu kini rasanya menjadi hal lumrah dan biasa dalam kehidupan sosial. Bahkan, agama dan moral yang berperan besar dalam menanggulangi hal ini sudah tidak begitu kuat menahan aliran derasnya. Nilai moral yang tertanam tipis sejak dini tentu menghasilkan generasi yang tidak memperdulikan hal baik dan buruk secara seksama. Gelombang seks bebas yang terbawa arus modernisasi dengan kemudahan dan kebebasan berbagi informasinya telah memperkenalkan anak usia dini pada persoalan hubungan intim tersebut. Masalah ini menyebabkan hubungan seks sudah mulai dijalani sejak usia dini, khususnya para pelajar. Ditambah lagi mudahnya mengakses video porno juga sangat berpengaruh dalam perubahan nilai moral generasi bangsa yang baru menyambut era seks bebas ini.

Indonesia bisa dikatakan sebagai bangsa yang baru dalam memulai budaya seks bebas (yang mana tadinya masih kental nuansa budaya timur dengan penuh nilai norma dan aturan agama), karena negara belahan barat banyak yang sudah menjalani kehidupan seperti ini sejak lama. Artinya, banyak masyarakat Indonesia kini tidak lagi terikat dan takluk pada aturan moral dan agama yang jelas melarang hubungan seks di luar pernikahan. Kenyataan ini terlihat dari maraknya perilaku seks bebas tidak hanya dilakukan oleh orang yang telah dewasa tetapi juga anak usia dini, yang bahkan masih jauh untuk mendapatkan kartu tanda penduduk, sudah melakukan hubungan intim suami istri tersebut.

Peralihan tentang hubungan seks sebagai hal tabu menjadi sesuatu yang umum tentu menimbulkan berbagai riak permasalahan. Salah satunya yaitu ketidak siapan datangnya era seks bebas bagi bangsa Indonesia sendiri. Permasalahan ini memunculkan beberapa hal yang bisa dikategorikan sebagai efek negatif, antara lain yaitu penyebaran virus HIV, kehamilan yang tidak diharapkan, aborsi, maraknya prostitusi, depresi, dan juga kasus perkosaan.

Sebagai contoh ketidak siapan budaya seks bebas adalah, anak usia dini yang berpacaran kini sudah mempraktekan hubungan intim layaknya suami istri tanpa mengetahui pentingnya penggunaan alat pengaman atau yang disebut kondom. Ketika hubungan berpacaran telah putus dan kemudian masing masing mendapatkan pacar baru, kebanyakan akan tetap melakukan persetubuhan dan sering melupakan penggunaan jaket karet ini. Padahal kemungkinan berganti ganti pasangan pacar sangat masih besar jika dilihat dari usia tersebut. Beberapa yang masih terbutakan serta yang menganggap istimewa hubungan seks tetapi mereka melakukannya di luar pernikahan sering kali mengabaikan pentingnya alat pengaman ini.

Grup band Jamrud melalui lirik lagunya yang berjudul “Surti Tejo” menggambarkan persoalan seks bebas ini. Dalam lirik tersebut, Tejo, sebagai pemuda yang pulang ke kampung halaman setelah merantau mencari dana di kota, menemui Surti kekasihnya semenjak lulus SD. Mereka berdua kemudian melepaskan rasa rindu yang ada ditengah hamparan sawah hingga malam menjelang menyelimuti desa. Jari jemari Tejo bergerak lincah dan mulai berpiknik dari wajah sampai lutut Surti. Mereka berdua terbawa suasana mesra sehingga sarung dijadikan sebagai alas. Lalu saat Tejo melakukan aksi yang mirip demo memasak dengan memasang alat kontrasepsi berupa kondom didepan Surti, tiba tiba Surti menjerit serentak menutup matanya. Surti yang kecewa dan menangis akhirnya berlari seperti kesurupan lalu ditinggalkan disitu Tejo sendiri dengan kekakuannya. Sebenarnya yang dilakukan Tejo cukup benar dengan dia menggunakan kondom (yang mana bisa menghindari kehamilan yang tidak diinginkan). Perasaan risih ataupun stigma jelek yang muncul dari alat pengaman inilah yang justru membawa petaka bagi para pelaku seks bebas.

Untuk perenungan kita bersama, marilah kita tilik lagi keadaan masyarakat bangsa Indonesia ini. Siap atau tidakkah Indonesia menyambut budaya seks bebas? Atau mungkin lebih baik menghindari gelombangnya dengan selalu memperkuat pondasi moral dan ajaran agama pada generasi sekarang ini? Atau ada jalan lainnya?

2 pemikiran pada “MENYAMBUT SEKS BEBAS SEJAK USIA DINI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s