KECERDASAN DAN KARYA SENI

Tingkat intelektual otak manusia memang berbeda-beda. Untuk mengetahui kadar kecerdasan yang ada bisa dilihat melalui banyak hal, salah satunya adalah dengan karya seni. Sebagai contoh, orang dengan kecerdasan rendah akan menyukai drama dengan jalan cerita yang sederhana karena otak mereka tidak harus bekerja keras untuk mencernanya. Mereka tentu tidak bisa menikmati sebuah drama dengan plot yang rumit. Dikarenakan perbedaan kemampuan pencernaan otak inilah yang juga bisa memberi nilai suatu karya seni menjadi subjektif.

Saat ini, sinetron sinetron yang ditayangkan di televisi nasional merupakan kategori drama sederhana. Jalan cerita yang berjalanpun bisa diikuti dengan mudah tanpa perlu konsentrasi otak yang tinggi. Dan pada kenyataannya, masyarakat Indonesia sebagian besar menyenangi tayangan sinetron yang mempunyai kadar seni rendahan tersebut. Ini cukup berbeda dengan drama drama luar negeri yang ditayangkan di televisi kabel berlanggangan.

Sangat susah untuk menunjuk siapa yang salah pada kasus kebodohan sosial ini. Pihak televisi membutuhkan penonton setia, maka dari itu mereka berusaha menyajikan sesuatu yang bisa dinikmati oleh masyarakat. Mereka membuat seni rendahan dan tidak berani menayangkan seni dengan kualitas tinggi karena takut penontonnya tidak bisa mencerna dan akhirnya kehilangan rating acara. Dalam hal ini keputusan yang diambil pihak televisi memang cerdas karena jelas mereka membutuhkan pasar agar tetap mendapatkan sponsor yang memasang iklan pada stasiunnya. Juga jelas pihak televisi tak ada keinginan untuk mengangkat kecerdasan penontonnya dengan tidak memberikan seni yang berkualitas tinggi.

Menurut pemikir besar Herbert Marcuse melalui tulisannya dalam buku One-Dimensional Man, karya seni pada era sekarang ini merupakan obyek perdagangan yang lebih mengutamakan nilai tukar daripada nilai seni itu sendiri. Hal ini bukanlah kemerdekaan bidang seni karena adanya sistem penguasaan yang mengintegrasi para penikmat seni tersebut. Masyarakat dijejali seni murahan karena tidak mampu untuk mendapatkan hiburan yang berkualitas. Karena hal inilah muncul pernyataan bahwa seni itu sesuatu yang mahal. Kasihan masyarakat yang miskin, kadar otaknya pun tetap miskin.

Satu pemikiran pada “KECERDASAN DAN KARYA SENI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s