Serpihan “Rumah Kaca”

Betapa sederhana hidup ini sesungguhnya. Yang pelik cuma liku dan tafsirannya. Jutaan semut mati setiap hari terinjak kaki manusia. Ribuan juta serangga mati setiap detik karena diberantas manusia diladang-ladang pertanian. Jiwa-jiwa itu punah dan yang tersisa berbiak kembali dalam laju yang sangat derasnya. Juga manusia berjatuhan di medan-perang, sama dengan semut dan serangga. Juga yang tersisa berbiak kembali dalam laju yang sama derasnya. Mengapa mesti sentimental terhadap kematian? Hanya karena sejak kecil dipompakan dongeng tentang iblis, malaikat, neraka dan surga? Segalanya tafsiran semata dan tetap tinggal tafsiran. Jutaan manusia telah lenyap dari muka bumi, termasuk peninggalannya karena bencana alam lebar. Siapa akan sentimental? Mereka malah bersyukur karena sendiri tak terkenai.
Dan aku? Kalau tidak pandai-pandai mendayung, tumpas juga termakan setiap pembesar, seperti hiu harus dapat kurban. Mengapa tak jadi hiu pula seperti setiap pembesar kolonial? Tak perlu sentimen-sentimenan kecil itu. Nilai yang diwariskan oleh kemanusiaan hanya untuk mereka yang mengerti dan membutuhkan. Humaniora memang indah bila diucapkan oleh para mahaguru–indah pula didengar oleh mahasiswa-mahasiswa berbakat dan toh menyebalkan bagi mahasiswa-mahasiswa bebal. Berbahagialah kalian, mahasiswa-mahasiswa bebal, karena kalian dibenarkan berbuat segala-galanya.
Menjelang fajar rencanaku telah masak. Persetan sentimen kecil-mengecil–setia pada kenyataan hidup. Mengapa teror harus dikutuk? Dunia kolonial dunia teror. Dua abad lebih mungkin lebih lama lagi orang juga sudah berselisih pikiran tentang makna hukum. Satu pihak menyumbar hukum untuk keselamatan umum, pihak lain bertahan hukum adalah alat mengendalikan umum. Dan berbelas makna lain. Yang paling tepat: hukum itu alat yang bisa dipergunakan pada waktu dibutuhkan dan cocok untuk memenuhi kebutuhan (hal 52-53).

Aku tahu betul, rencana dan tambahan atasnya hanya pencerminan dari sikapku yang tidak jelas, ragu-ragu mau selamat sendiri, senang sendiri atas nama jabatan, karier dan keluarga. Tapi pada pihak lain kesadaran intelektual sulit membenarkan. Sikap itu membikin aku jadi bandit tanpa prinsip dan tolol. Betapa mahal biaya keselamatan dan kesenangan sendiri. Orang-orang lain harus dijual dan dikurbankan untuknya. Aku kira semua orang yang berpikir tahu belaka duduk perkara kerakusan pribadi ini. Dan aku bukanlah satu-satunya yang terbelit-belit dalam perkara ini (Paragraph 2, hal 65).

-Jacques Pangemanann

Kutipan dari buku Tetralogi Buru “Rumah Kaca” karya Pramoedya Ananta Toer

Satu pemikiran pada “Serpihan “Rumah Kaca”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s