Aku Lebih Mendamba Keningmu

Menenun detik bersamamu, hasrat ciptakan lembar senyum terkenang.
Merekah tatap dari kelopak yang telah kau hias, bekukan darahku.
Mengikat erat mungil jemarimu, beri udara tiap sela tubuh ini melayang.
Bertubi curah aksara aliri lekuk pelisan yang tipis, matikan syarafku.

Pedalaman rimba hatimu tunjukan keindahan alunan alam.
Keangkeran dongeng kuno yang mengiringi kini hanya reruntuhan.
Melaju jejakkan langkah beratku pada titian kokohmu.
Sadari bahwa rapuh yang ada hanyalah luka yang tak terbawa.

Aku temui dirimu tak bersayap.
Kulucuti sandangmu tak gemerlap.
Tertegun, batin yakini kau tetap bisa terbang.
Yakin, hati percayai kulitmu bersinar gemilang.

Aku dengan segala ketangguhanku terpana.
Persilahkan jiwa untuk menyapa.
Aku dengan tingkah liarku mulai merasa.
Jinak adalah harmoni dua nyawa.

Kemudian aku terilhami, tak harus oleskan basah pada bibir indahmu, aku lebih mendamba berikan kecup hangat pada keningmu.
Tuk tiap hela sisa nafasku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s