MANUSIA ITU PERANG

Sebelumnya, harus saya katakan bahwa tulisan ini hanya uneg-uneg imaginasi di pikiran semata. Tidak ada niatan untuk mempengaruhi atau menghasut cara pandang mahluk jenis apapun di alam semesta ini. Menurut filsuf Schopenhauer, pandangan manusia terhadap dunia semuanya adalah subjektif, dan tidak ada dunia objektif yang harus sesuai dengan kesadaran tertentu dari seseorang.

Bagi yang setuju dengan teori evolusi Darwin, sangat jelaslah bahwa manusia adalah hewan yang mempunyai akal dan pikiran. Manusia sudah berevolusi dari menggunakan insting seperti hewan pada umumnya menjadi kemampuan berfikir yang cerdas. Mengikuti pemikiran Freud dengan teori psikologi Id, Ego, dan Superegonya, diri manusia merupakan kebuasan yang dijinakkan oleh aturan dan moral kehidupan. Dari pemikiran pemikiran tersebut, dapat disimpulkan bahwa manusia memang memiliki sisi kehewanan yang terpendam di alam bawah sadarnya. Seperti layaknya dongeng Tarzan si manusia hutan, dia hidup dengan cara binatang menjalani kehidupan. Hal ini dikarenakan Tarzan tidak mengenal norma dan aturan yang berlaku bagi masyrakat pada umumnya.

Sesuatu proses perubahan tentu tidak bisa menghilangkan 100% apa yang ada pada sebelumnya. Manusia tetap memiliki sisi kehewanan di dirinya yang selalu ditekan oleh aturan, norma, agama, dan hukum yang berlaku sehingga dia tidak bisa memunculkan sisi ini dengan sesuka hatinya. Hal-hal yang bisa menekan sisi kehewanan manusia ini, bisa dijadikan senjata untuk mengontrol kebuasan diri manusia. Diantara hal-hal tersebut, yang paling mengikat adalah persoalan hukum. Sejak kita pertama kali menangis saat terlahir ke dunia ini kita sudah terikat dengan hukum yang berlaku. Karena hukum dijadikan sebagai landasan cara menjalani kehidupan, maka siapa saja yang bisa memahami semua mantra pasalnya akan mendapatkan kekuatan saktinya. Sekarang bukan lagi persoalan siapa yang lebih kuat dia yang menang seperti saat Simba The Lion King bertarung mengalahkan Scar, tetapi lebih kepada siapa yang memahami hukum yang akan menang. Dulu ketika ada seseorang yang dipukul dia harus bisa membalas memukul. Kemudian setelah memahami hukum, ketika ada yang memukul ya harus siap dituntut. Otot menjadi otak inilah yang ikut berperan dalam menumpas sisi kehewanan manusia.

Sebenarnya manusia selalu merindukan sisi kehewanan pada dirinya. Sebagai contoh adalah, kita suka menonton film yang berbau action. Kita senang melihat adegan tokoh utama bertarung habis habisan mengalahkan si musuh. Lembaga sensor film bahkan lebih mudah meloloskan film action daripada film percintaan. Sama halnya dengan pertunjukan tinju, martial art, adu ayam, adu cupang dan juga bangsa Roma sudah dari dulu menikmati gladiator saling pukul. Adrenalin kita ikut terpacu saat menontonnya. Tapi, beranikah kita sendiri yang mencobanya? Tapi ingat, kekuatan fisik sudah berevolusi menjadi kekuatan hukum.

Ada sebuah penelitian yang memperhatikan tingkah laku beberapa kawanan simpanse di sebuah hutan. Kawanan simpanse tersebut mempunyai wilayah masing masing untuk mencari makan dan berkembang biak. Hingga pada suatu saat, suplai makanan di salah satu wilayah kawanan berkurang dan akhirnya mereka bergerak mencari tempat baru. Kawanan simpanse ini kemudian menyerang wilayah kelompok simpanse lain, mereka saling bertarung dan berhasil mengusir kelompok yang mendiami wilayah ini sebelumnya. Peristiwa seperti ini terjadi pada binatang yang tingkat kecerdasan pikirannya masih di bawah manusia. Jadi manusia yang mempunyai sifat sifat yang lebih kompleks seperti cinta, benci, iri, bangga, cemburu, dengki, rakus, sombong, dan lain sebagainya sangat wajar jika manusia saling berperang antara satu dengan lainnya. Bahkan pemicu perang antar manusia tidak hanya sekedar soal makanan, bisa juga hal hal yang menyangkut perasaan. Kebanggaan dan harga diri biasanya menjadi penyebab utama terjadinya peperangan manusia. Ini baru persoalan yang tidak terlihat jelas oleh mata, belum lagi soal perebutan sesuatu yang ada bentuk fisiknya. Nietzsche sendiri mengatakan jika manusia sebagai Ubermanch mempunyai kecenderungan ingin bisa mengalahkan manusia lainnya. Qobil atau Kain membunuh saudaranya sendiri, Firaun membantai semua bayi laki laki di kerajaannya, tentara Roma menyalib Yesus, nabi Muhammad dengan kondisi perangnya, para misionaris dengan penaklukannya, raja raja di tanah jawa yang saling berperang, Hitler membantai orang orang Yahudi, G30S PKI, Osama Bin Laden, bahkan permusuhan antar suporter klub sepak bola, dan sekarang ISIS dengan entah apa ideologi agungnya atau kepentingan politik di timur tengah yang begitu ruwetnya. Ini baru sedikit contoh perang yang ada. Perang dan perang. Mengiringi sejarah kehidupan manusia.

Saat ini, ramai diberitakan bahwa banyak warga negara Indonesia yang dianggap ikut bergabung menjadi anggota kelompok ISIS. Hal ini membuat pemerintah bekerja lebih keras dalam upaya pencegahan warga Indonesia bergabung dengan kelompok tersebut. ISIS sendiri dianggap sebagai kelompok radikal yang menggunakan jalan peperangan dalam pencapaian tujuannya. Tindakan radikal tentunya memancing reaksi yang negatif, karena peperangan bisa menyebabkan kerusakan atau kehancuran.

Mengesampingkan tujuan utama kelompok ini (yang mana saya sendiri juga tidak memahami tujuan mereka yang “sebenar-benarnya”), ISIS membawa embel-embel salah satu agama yang ada yaitu agama Islam. Embel-embel agama ini (dan entah aliran ajaran Islam yang mana, berhubung banyak sekali aliran ajaran agama Islam di dunia ini) bisa menjadi pengaruh atau magnet yang menarik bagi calon anggota yang sudah mempunyai ideologi yang sama. Bahkan, konon katanya kelompok ISIS siap memberikan upah gaji yang cukup lumayan bagi siapapun yang siap bergabung. Dengan mempunyai magnet yang bisa menarik calon calon anggota baru ini, seseorang mungkin saja siap untuk bergabung dan berjuang mengikuti gerakan ISIS tanpa melihat kepentingan atau situasi politik yang sebenarnya terjadi di daerah konflik tersebut.

Kembali pada anggapan bahwa ISIS merupakan kelompok radikal yang berjuang dengan jalan perang, datanglah hujatan dan pemberian cap jelek terhadap kelompok ini. Dan sudah pasti, masyarakat akan membentengi keluarga dan kerabatnya agar tidak turut bergabung dengan kelompok tersebut. Pencegahan ini dimaksudkan agar ISIS tidak semakin membesar dengan pertambahan anggota tentunya. Entah bagaimana kepentingan yang sebenarnya terjadi kenapa kelompok ini masih saja bisa melangsungkan peperangan (konflik dan politik yang begitu ribetnya) sehingga tidak ada yang menjatuhkan bom atom di wilayah ISIS jika memang kelompok ini menggaggu dan dianggap salah. Ibaratnya langsung total habisin satu saja daripada mencicil dengan perang saling lawan saling serang saling bunuh bunuhan. Tapi hal ini tidak bisa dilakukan begitu saja karena ada faktor-faktor tertentu yang mengikat urusan politik di daerah konflik tersebut. Jadi katakanlah, saya sebagai pribadi atas diri saya yang terikat dengan hukum negara Indonesia tentu tidak diperkenankan ikut bergabung, dan memang saya tetap tidak ikut bergabung dengan kelompok ISIS, tetapi ISIS masih bisa melancarkan peperangan dengan gencarnya. Ini artinya, ketika saya dan anda sedang asyik menonton sinetron TV yang bercerita tentang cowok ganteng yang ternyata serigala, perang tetap terjadi di belahan dunia lainnya. Betapa santainya hidup kita.

Mengutip kalimat dari Voltaire, “Membunuh itu dilarang. Dengan demikian, semua pembunuh dihukum, kecuali mereka membunuh dalam jumlah yang besar dan dengan diiringi suara genderang dan terompet.”

Iklan