Segala yang Tumpah

DHNIRWN

1

yang akhirnya kau banting ke lantai
pecah belah tercerai
meski sudah kususun rapi

yang kemudian kau remuk serpihan
ingatan pucat kenangan
padahal aku buang ke kubangan

yang lalu kau pendam dan menumpuk
katakata sumpah serapah busuk
walau aku bersiap yang terburuk

2

lalu turunlah segala yang tumpah
dan berdentuman melimpah
membuat mata basah
sudahlah

Lihat pos aslinya

Seni Dalam Estetika, Pemaknaan Atas Pengalaman

bunyiseruling

Estetika adalah cabang ilmu Filsafat yang membahas masalah keindahan. Bagaimana keindahan bisa tercipta dan bagaimana orang bisa merasakannya dan memberi penilaian terhadap keindahan tersebut. Maka filsafat estetika akan selalu berkaitan dengan antara baik dan buruk, antara indah dan jelek.Bukan berbicara tentang salah dan benar seperti dalam filsafat epistemologi.

Seni yang kita kenal pada umumnya merupakan hal-hal indah, mulai dari seni musik, seni rupa, seni tari, seni peran, seni berperang (sun tzu, salah satu tokoh terkenalnya), dan akhir-akhir ini sedang populer pula seni mempercantik atau memperindah diri. Apabila pandangan mengenai seni adalah hal yang melulu mengenai keindahan, lalu bagaimana

Lihat pos aslinya 576 kata lagi

NIETZSCHE – SANG BAYI (UBERMENSCH)

SKEPTICAL INQUIRY

Sang Bayi Yang Bermain

“Solusi” atas Modernitas (Sains) menurut Nietzsche

 

“Jangan-jangan yang namanya disiplin roh saintifik itu

memang dimulai dari pelarangan-diri atas segala bentuk keyakinan?”[1]

(Nietzsche, La Gaya Scienza (GS), Hal. 344)


“Modern”

Itulah nama yang menandai zaman kita dewasa ini.

Jika Shakespeare ada saat ini dan di sini, saya membayangkan bahwa ia akan bertanya,

“Apalah arti sebuah nama?[2] Apa artinya ‘modern’? Masihkah memiliki makna?”

Kata “modern” berasal dari kata Latin ‘moderna’, yang berarti ‘sekarang’, ‘baru’, atau ‘saat ini’. Jika kita mendasari pemahaman kita atas dasar pengertian tersebut, maka kita dapat mengatakan bahwa manusia senantiasa hidup dalam zaman “modern”, sejauh “kekinian” menjadi kesadarannya. Menurut para ahli, “kelahiran” zaman modern di Eropa itu sekitar tahun 1500. Lalu, “Apakah sebelum tahun 1500, manusia belum hidup di masa ‘kini’?” Tentunya TIDAK. Hal ini hanya ingin menunjukkan bahwa “kesadaran manusia akan ‘kekinian’ muncul di banyak tempat, khususnya di Eropa…

Lihat pos aslinya 2.659 kata lagi

Jual Beli Kepedulian

Tak ada manusia yang tidak butuh kehadiran manusia lainnya. Tak ada manusia yang benar benar ingin hidup dalam kesendirian. Semenjak kita terlahir ke dunia, kita sudah membutuhkan sentuhan manusia lainnya. Manusia berbeda dengan anak kuda yang bisa langsung berdiri dan tak perlu dicarikan rumput oleh sang induknya.
Kasih sayang dan kepedulian yang kita dapatkan sedari masih bayi, adalah sumber kekuatan manusia yang harus dihargai. Orang lain telah memberikan kita kehidupan. Tapi sebagai pribadi yang merasa kuasa akan dirinya, kita tak lagi peduli akan lainnya. Keegoisan kita mengantarkan prinsip untuk memberi sesuatu hanya pada orang yang kita harapkan pula pemberiannya. Hal ini seperti sistem barter atawa jual beli belaka. Hukum alam yang tercipta karena keegoisan manusia. Ketulusan menjadi hal yang langka. Tulus adalah kata yang indah, dan suatu kata yang indah untuk diwujudkan sangatlah tidak mudah. Dan aku semakin menjadi takut dalam melangkah.

Aku Lebih Mendamba Keningmu

Menenun detik bersamamu, hasrat ciptakan lembar senyum terkenang.
Merekah tatap dari kelopak yang telah kau hias, bekukan darahku.
Mengikat erat mungil jemarimu, beri udara tiap sela tubuh ini melayang.
Bertubi curah aksara aliri lekuk pelisan yang tipis, matikan syarafku.

Pedalaman rimba hatimu tunjukan keindahan alunan alam.
Keangkeran dongeng kuno yang mengiringi kini hanya reruntuhan.
Melaju jejakkan langkah beratku pada titian kokohmu.
Sadari bahwa rapuh yang ada hanyalah luka yang tak terbawa.

Aku temui dirimu tak bersayap.
Kulucuti sandangmu tak gemerlap.
Tertegun, batin yakini kau tetap bisa terbang.
Yakin, hati percayai kulitmu bersinar gemilang.

Aku dengan segala ketangguhanku terpana.
Persilahkan jiwa untuk menyapa.
Aku dengan tingkah liarku mulai merasa.
Jinak adalah harmoni dua nyawa.

Kemudian aku terilhami, tak harus oleskan basah pada bibir indahmu, aku lebih mendamba berikan kecup hangat pada keningmu.
Tuk tiap hela sisa nafasku.

Kenyataan dan Moralitas

Rumah Filsafat

i.kinja-img.com i.kinja-img.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya

Banyak orang hidup sekedar untuk mengumpulkan uang. Ia haus akan harta, guna memuaskan semua keinginannya. Orang-orang ini juga hidup untuk memperoleh nama baik. Ia mengira, uang dan nama baik akan memberikan kepenuhan hidup baginya.

Sayangnya, orang yang telah memperoleh uang banyak dan nama baik seringkali tidak kunjung merasa bahagia. Sebaliknya, mereka hidup dengan rasa takut akan kehilangan uang dan nama baik tersebut. Mereka melekat pada kedua benda itu. Dikiranya, tanpa kedua benda itu, hidupnya akan hancur.

Hidup dalam Ilusi

Inilah salah satu salah paham terbesar manusia dalam hidupnya. Ia mengira ilusi sebagai kenyataan. Akhirnya, ia hidup dalam kebohongan. Dari kebohongan lahirlah penderitaan yang mendorong dia untuk membuat orang-orang sekitarnya juga menderita.

Uang dan nama baik sejatinya adalah kosong. Keduanya adalah ilusi. Ketika kita lapar, kita tidak bisa makan uang. Ketika kita haus, kita tidak bisa minum nama…

Lihat pos aslinya 725 kata lagi

TGPF Mei 98, Pencari Fakta atau Pengisi Data?

Wajah gelao Indonesia

stwnlf

Bulan Mei ini saya disuruh nulis tentang sejarah kelam Indonesia di tahun 1998. “Gilee, gw ga tau ape-ape,” saya fikir. Bukannya tidak tau apa-apa, saya tau tapi “apa-apa” nya ini yang saya tidak tau. Untunglah saya hidup di zaman jauh setelah negara api menyerang, jadi bisa menikmati dan memanfaatkan internet. Jadi, ya sudah saya coba sekenanya saja, dan saya posting ulang di sini plus pandangan pribadi yang tidak bisa saya tulis di situs sebelah.

——

Bulan ke lima sejak tahun 1998 selalu menjadi bulan yang dipenuhi dengan drama dan konflik karakter bangsa di atas panggung sendiri, dalam hal ini yang saya maksud adalah cikal bakal reformasi Indonesia. Dimulai sejak tahun 1998 dan memanas di bulan Mei. Tahun 2015 ini tepat menandai 17 tahun kerusuhan yang terjadi pada tanggal 13-15 Mei ’98. Kerusuhan yang dipicu oleh protes mahasiswa untuk menurunkan presiden Soeharto dari kursi kekuasaan, dan ditembakjatuhnya empat mahasiswa dalam bentrok…

Lihat pos aslinya 871 kata lagi

Serpihan “Rumah Kaca”

Betapa sederhana hidup ini sesungguhnya. Yang pelik cuma liku dan tafsirannya. Jutaan semut mati setiap hari terinjak kaki manusia. Ribuan juta serangga mati setiap detik karena diberantas manusia diladang-ladang pertanian. Jiwa-jiwa itu punah dan yang tersisa berbiak kembali dalam laju yang sangat derasnya. Juga manusia berjatuhan di medan-perang, sama dengan semut dan serangga. Juga yang tersisa berbiak kembali dalam laju yang sama derasnya. Mengapa mesti sentimental terhadap kematian? Hanya karena sejak kecil dipompakan dongeng tentang iblis, malaikat, neraka dan surga? Segalanya tafsiran semata dan tetap tinggal tafsiran. Jutaan manusia telah lenyap dari muka bumi, termasuk peninggalannya karena bencana alam lebar. Siapa akan sentimental? Mereka malah bersyukur karena sendiri tak terkenai.
Dan aku? Kalau tidak pandai-pandai mendayung, tumpas juga termakan setiap pembesar, seperti hiu harus dapat kurban. Mengapa tak jadi hiu pula seperti setiap pembesar kolonial? Tak perlu sentimen-sentimenan kecil itu. Nilai yang diwariskan oleh kemanusiaan hanya untuk mereka yang mengerti dan membutuhkan. Humaniora memang indah bila diucapkan oleh para mahaguru–indah pula didengar oleh mahasiswa-mahasiswa berbakat dan toh menyebalkan bagi mahasiswa-mahasiswa bebal. Berbahagialah kalian, mahasiswa-mahasiswa bebal, karena kalian dibenarkan berbuat segala-galanya.
Menjelang fajar rencanaku telah masak. Persetan sentimen kecil-mengecil–setia pada kenyataan hidup. Mengapa teror harus dikutuk? Dunia kolonial dunia teror. Dua abad lebih mungkin lebih lama lagi orang juga sudah berselisih pikiran tentang makna hukum. Satu pihak menyumbar hukum untuk keselamatan umum, pihak lain bertahan hukum adalah alat mengendalikan umum. Dan berbelas makna lain. Yang paling tepat: hukum itu alat yang bisa dipergunakan pada waktu dibutuhkan dan cocok untuk memenuhi kebutuhan (hal 52-53).

Aku tahu betul, rencana dan tambahan atasnya hanya pencerminan dari sikapku yang tidak jelas, ragu-ragu mau selamat sendiri, senang sendiri atas nama jabatan, karier dan keluarga. Tapi pada pihak lain kesadaran intelektual sulit membenarkan. Sikap itu membikin aku jadi bandit tanpa prinsip dan tolol. Betapa mahal biaya keselamatan dan kesenangan sendiri. Orang-orang lain harus dijual dan dikurbankan untuknya. Aku kira semua orang yang berpikir tahu belaka duduk perkara kerakusan pribadi ini. Dan aku bukanlah satu-satunya yang terbelit-belit dalam perkara ini (Paragraph 2, hal 65).

-Jacques Pangemanann

Kutipan dari buku Tetralogi Buru “Rumah Kaca” karya Pramoedya Ananta Toer