TGPF Mei 98, Pencari Fakta atau Pengisi Data?

Wajah gelao Indonesia

stwnlf

Bulan Mei ini saya disuruh nulis tentang sejarah kelam Indonesia di tahun 1998. “Gilee, gw ga tau ape-ape,” saya fikir. Bukannya tidak tau apa-apa, saya tau tapi “apa-apa” nya ini yang saya tidak tau. Untunglah saya hidup di zaman jauh setelah negara api menyerang, jadi bisa menikmati dan memanfaatkan internet. Jadi, ya sudah saya coba sekenanya saja, dan saya posting ulang di sini plus pandangan pribadi yang tidak bisa saya tulis di situs sebelah.

——

Bulan ke lima sejak tahun 1998 selalu menjadi bulan yang dipenuhi dengan drama dan konflik karakter bangsa di atas panggung sendiri, dalam hal ini yang saya maksud adalah cikal bakal reformasi Indonesia. Dimulai sejak tahun 1998 dan memanas di bulan Mei. Tahun 2015 ini tepat menandai 17 tahun kerusuhan yang terjadi pada tanggal 13-15 Mei ’98. Kerusuhan yang dipicu oleh protes mahasiswa untuk menurunkan presiden Soeharto dari kursi kekuasaan, dan ditembakjatuhnya empat mahasiswa dalam bentrok…

Lihat pos aslinya 871 kata lagi

“Celebration of The Lizard” by Jim Morrison (The Doors)

Lions in the street and roaming
Dogs in heat, rabid, foaming
A beast caged in the heart of a city
The body of his mother
Rotting in the summer ground
He fled the town

He went down South and crossed the border
Left chaos and disorder
Back there over his shoulder

One morning he awoke in a green hotel
With a strange creature groaning beside him
Sweat oozed from its shining skin
is everybody in?
is everybody in?
is everybody in?
the ceremony is about to begin

Wake up!
You can’t remember where it was
Had this dream stopped?

The snake was pale gold
Glazed and shrunken
We were afraid to touch it
The sheets were hot dead prisons
And she was beside me
Old, she’s no, young
Her dark red hair
the white soft skin

Now, run to the mirror in the bathroom
Look!
shes coming in here
I can’t live thru each slow century of her moving
I let my cheek slide down
The cool smooth tile
Feel the good cold stinging blood
The smooth hissing snakes of rain . . .

Once I had, a little game
I liked to crawl, back in my brain
I think you know, the game I mean
I mean the game, called ‘go insane’

you should try, this little game
Just close your eyes, forget your name
Forget the world, forget the people
And we’ll erect, a different steeple

This little game, is fun to do
Just close your eyes, no way to lose
And I’m right there, I’m going too
Release control, we’re breaking thru

Way back deep into the brain
Back where there’s never any pain
And the rain falls gently on the town
And over the heads of all of us
And in the labyrinth of streams
Beneath, the quiet unearthly presence of
gentle hill dwellers, in the gentle hills around
Reptiles abounding
Fossils, caves, cool air heights

Each house repeats a mold
Windows rolled
Beast car locked in against morning
All now sleeping
Rugs silent, mirrors vacant
Dust Lying under the beds of lawful couples
Wound in sheets
And daughters, smug
With semen eyes in their nipples

Wait
There’s been a slaughter here

(Don’t stop to speak or look around
Your gloves and fan are on the ground
We’re getting out of town
We’re going on the run
And you’re the one I want to come)

Not to touch the earth
Not to see the sun
Nothing left to do, but
Run, run, run
Let’s run
lets run

House upon the hill
Moon is lying still
Shadows of the trees
Witnessing the wild breeze
C’mon baby run with me
Let’s run

Run with me
Run with me
Run with me
Let’s run

The mansion is warm, at the top of the hill
Rich are the rooms and the comforts there
Red are the arms of luxuriant chairs
And you won’t know a thing till you get inside

Dead president’s corpse in the driver’s car
The engine runs on glue and tar
C’mon along, we’re not going very far
To the East to meet the Czar

run with me
run with me
run with me
let’s run

Some outlaws lived by the side of the lake
The minister’s daughter’s in love with the snake
Who lives in a well by the side of the road
Wake up, girl! We’re almost home

We should see the gates by mornin’
We should be inside by evening,

sun sun sun
burn burn burn
MOON, MOON, MOON
i will get you
soon,
soon,
soon

i am the lizard king
i can do anything

We came down
The rivers and highways
We came down from
Forests and falls

We came down from
Carson and Springfield
We came down from
Phoenix enthralled
And I can tell you
The names of the Kingdom
I can tell you
The things that you know
Listening for a fistful of silence
Climbing valleys into the shade

for seven years, i dwelt
in the loose palace of exile
playing strange games with the girls of the island
now, i have come again
to the land of the fair, and the strong, and the wise
brothers and sisters of the pale forest
children of night
who among you will run with the hunt?
now night arrives with her purple legion
Retire now to your tents and to your dreams
Tomorrow we enter the town of my birth
I want to be ready

Serpihan “Rumah Kaca”

Betapa sederhana hidup ini sesungguhnya. Yang pelik cuma liku dan tafsirannya. Jutaan semut mati setiap hari terinjak kaki manusia. Ribuan juta serangga mati setiap detik karena diberantas manusia diladang-ladang pertanian. Jiwa-jiwa itu punah dan yang tersisa berbiak kembali dalam laju yang sangat derasnya. Juga manusia berjatuhan di medan-perang, sama dengan semut dan serangga. Juga yang tersisa berbiak kembali dalam laju yang sama derasnya. Mengapa mesti sentimental terhadap kematian? Hanya karena sejak kecil dipompakan dongeng tentang iblis, malaikat, neraka dan surga? Segalanya tafsiran semata dan tetap tinggal tafsiran. Jutaan manusia telah lenyap dari muka bumi, termasuk peninggalannya karena bencana alam lebar. Siapa akan sentimental? Mereka malah bersyukur karena sendiri tak terkenai.
Dan aku? Kalau tidak pandai-pandai mendayung, tumpas juga termakan setiap pembesar, seperti hiu harus dapat kurban. Mengapa tak jadi hiu pula seperti setiap pembesar kolonial? Tak perlu sentimen-sentimenan kecil itu. Nilai yang diwariskan oleh kemanusiaan hanya untuk mereka yang mengerti dan membutuhkan. Humaniora memang indah bila diucapkan oleh para mahaguru–indah pula didengar oleh mahasiswa-mahasiswa berbakat dan toh menyebalkan bagi mahasiswa-mahasiswa bebal. Berbahagialah kalian, mahasiswa-mahasiswa bebal, karena kalian dibenarkan berbuat segala-galanya.
Menjelang fajar rencanaku telah masak. Persetan sentimen kecil-mengecil–setia pada kenyataan hidup. Mengapa teror harus dikutuk? Dunia kolonial dunia teror. Dua abad lebih mungkin lebih lama lagi orang juga sudah berselisih pikiran tentang makna hukum. Satu pihak menyumbar hukum untuk keselamatan umum, pihak lain bertahan hukum adalah alat mengendalikan umum. Dan berbelas makna lain. Yang paling tepat: hukum itu alat yang bisa dipergunakan pada waktu dibutuhkan dan cocok untuk memenuhi kebutuhan (hal 52-53).

Aku tahu betul, rencana dan tambahan atasnya hanya pencerminan dari sikapku yang tidak jelas, ragu-ragu mau selamat sendiri, senang sendiri atas nama jabatan, karier dan keluarga. Tapi pada pihak lain kesadaran intelektual sulit membenarkan. Sikap itu membikin aku jadi bandit tanpa prinsip dan tolol. Betapa mahal biaya keselamatan dan kesenangan sendiri. Orang-orang lain harus dijual dan dikurbankan untuknya. Aku kira semua orang yang berpikir tahu belaka duduk perkara kerakusan pribadi ini. Dan aku bukanlah satu-satunya yang terbelit-belit dalam perkara ini (Paragraph 2, hal 65).

-Jacques Pangemanann

Kutipan dari buku Tetralogi Buru “Rumah Kaca” karya Pramoedya Ananta Toer

Resensi: Iblis Menggugat Tuhan

Rokhmatulah's Site

Iblis Menggugat Tuhan Iblis Menggugat Tuhan

Jika temen-temen pernah membaca beberapa buku seperti novel Laila Majnun karya Nizami Ganjavi  atau Spirit of Rebellious karya Kahlil Gibran, buku yang hendak saya bahas ini memiliki gaya bahasa, nuansa ataupun rasa yang hampir sama dengan buku-buku tersebut. Hanya saja yang membedakan adalah jika buku-buku tadi ditulis pada abad pertengahan, sedangkan buku yang merupakan dwilogi karya Da’ud Ibn Ibrahim Al-Shwawni dikarang pada abad millennium.

Buku yang hendak saya behas di sini adalah sebuah novel berjudul Iblis Menggugat Tuhan. Judul asli buku ini adalah The Madness of God & The Man Who Have The Elephant yang ditulis oleh seorang berkebangsaan Mesir bernama Da’ud Ibn Ibrahim Al-shwawni. Pada penyajianya, buku ini dibagi menjadi dua judul yaitu The Madness of God dan yang kedua adalah The Man Who Have The Elephant.

Sekuel pertama Buku ini yang berjudul Madness of God yang diawali dengan kisah pertemuan antara pendeta Buhairo dengan…

Lihat pos aslinya 1.188 kata lagi

Indonesia Selebar Layar Kaca

Television Rules The Nation

Muhammad Jhovy Rahadyan

image

Perjalanan banyak mengajarkan kita tentang sudut pandang baru. Kita akan bertemu makanan unik, orang dengan aksen berbeda, sampai suasana kota yang lain. Lain dengan kehidupan kita.

Tersadar tentang hal penting: sayang jika hidup kita hanya didikte “kebenaran” versi media massa.

Saat kriminalitas di TV terkesan sudah meraja lela, kita tetap bertemu orang yang dengan ramah menunjukkan jalan bagi kita.

Saat dikata mahasiswa kampus besar sedang merasa menjadi pemikir besar negara, kita berjumpa orang yang dengan ikhlas bersihkan sampah tanpa dibayar. Hanya karena ingin kotanya bersih. Rasanya dia tak sarjana.

Saat bangsa baik ini dicap beringas, pemalas, tak punya semangat, kita masih mudah menemukan pedagang yang datang ke pasar sedari Adzan Shubuh bersahutan memanggil.

Lalu, kau masih ingin menelungkup sedih, pesimis, putus asa di kamarmu yang nyaman, di depan gadgetmu, sambil mencibir bangsamu sendiri?

Keluarlah, singgungkan hidupmu dengan udara segar dan senyum dari orang-orang ini. Indonesia tidak hanya selebar layar kaca.

Lihat pos aslinya 18 kata lagi

Olga Syahputra; Dikenang atau Dijadikan Uang

irwanamrizal

Sudah lebih dari seminggu sejumlah program talk show, program musik, dan infotaiment di teve teristerial membicarakan dan memberitakan kematian Olga Syahputra.

Pernak-pernik kehidupan Olga dikupas mendalam, terutama kebaikan dan kelebihannya. Kawan-kawan karibnya diundang sebagai narasumber utama.

Isinya simpatik. Bahkan segala pembicaraan dan pemberitaan itu selalu memancing air mata para pemirsa. Beragam footage terkait Olga ditampilkan untuk menambah suasana dramatis.

Tapi, apa teve teristerial itu benar-benar berempati dengan kematian Olga Syaputra? Saya justru merasakan sebaliknya.

Terlalu telanjang aura komodifikasi di setiap program dalam menampilkan pemberitaan kematian Olga. Beberapa program yang biasanya taping mendadak siaran langsung.

Para petinggi teve teristerial itu percaya di luar sana ada banyak penonton, baik penggemar Olga atau bukan, yang ingin mengetahui berita seputar Olga. Alasan mereka sederhana, Olga masih merupakan pesohor dengan nilai rating dan share yang tinggi.

Jadi, bagi mereka momen kematian Olga tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Dan hasilnya sesuai harapan. Tabloid Bintang, misalnya, melansir…

Lihat pos aslinya 128 kata lagi

Seni Itu Mahal

elaborasirefleksi

Seni merupakan cabang kehidupan manusia yang dirasa mutlak perlu ada sejak keberadaan manusia itu sendiri. Meski demikian akrab, manusia baru bisa menyelami seni ketika kebutuhan-kebutuhan hidup yang disebut lebih mendasar, telah terlebih dulu terpenuhi. Dengan kerangka pikir demikian, saya katakan seni itu mahal.

Sebelum lebih jauh menjelaskan, akan saya terangkan dahulu apa yang saya maksud sebagai “mahal”, demi mendapatkan konteks bersama secara akur. Pemilihan istilah mahal di sini sama sekali tidak mengaitkannya dengan harga rupiah yang harus dibayarkan demi memiliki sebuah karya seni. Berapa juta perlu dikeluarkan seorang kaya untuk memiliki lukisan Picasso atau Dali, berapa duit yang harus disediakan panitia untuk mendatangkan musikus berkelas nasional demi menghibur para muda mudi yang datang ke pentas seni.

Bukan itu. Pengertian mahal (dan seni) diterapkan dalam perspektif yang lebih makro. Bagaimana sebuah peradaban bisa mengakses seni, terutama melalui proses kreatif anggotanya, hanya bisa dilakukan jika peradaban itu memiliki kemewahan sendiri. Kemewahan…

Lihat pos aslinya 776 kata lagi

Indonesia; negeri latah yang tidak lucu

stwnlf

“Latah” katanya masuk jenis penyakit yang bikin si penderita kalo dikejutkan suka mengeluarkan kata-kata yang tidak bisa dikontrol olehnya. Latah juga katanya menular kalo kita sering melihat hal tersebut. Katanya lho, saya sih ga paham.

Tapi, apa yang biasanya terjadi kalo kita melihat orang latah dikagetkan di televisi? Kita tertawa tentunya, karena selera humor kita rendah. Ada orang penyakitnya dieksploitasi kok kita ketawa?

Televisi Indonesia suka sekali menghadirkan orang-orang latah di layar kaca rumah kita, yang terakhir saya tahu adalah Olga Syahputra. Setelah Olga menghilang dari pertelevisian, saya tidak pernah nonton tv lagi, saya sedih Olga hilang (*masukan emoji muntah di sini*).

Tidak, bukan begitu. Saya berhenti nonton tv karena pertelevisian Indonesia sedang sakit. Acara lawak yang tidak lucu, eksploitasi kemiskinan seorang nenek/kakek di sebuah kampung demi rating, bully, acara musik pagi yang pembawa acaranya baru bangun 10 menit yang lalu dan banyak hal lain yang seolah menunjukkan…

Lihat pos aslinya 183 kata lagi

Indonesia dan perikemanusiaan yang tumpul

stwnlf

Posting kali ini saya mau protes tentang intelektual massa di Indonesia, dan mengkhususkan persoalan pada begal motor yang di bakar beberapa waktu lalu. Saya fikir ini sangat berhubungan karena menyangkut bagaimana massa mengeksekusi seorang penjahat yang mereka tangkap, dan bagaimana intelektual mereka sebegitu mampetnya dibendung emosi. Persoalan tentang “main hakim sendiri” oleh masyarakat menurut saya adalah refleksi dari masyarakat bodoh, barbar dan tak berperikemanusiaan dalam menyelesaikan masalah. Saya kecewa, saya marah, kesal dan tidak habis fikir bagaimana bisa orang yang sedang marah besar menyiramkan minyak ke tubuh orang lain untuk kemudian disulut api.

Lalu saya coba untuk mereka ulang skenario di tempat kejadian dengan kepala saya sebelum massa memutuskan untuk membakar maling yang – juga sama seperti mereka – seorang manusia itu. Saya membayangkan si maling tertangkap dan sudah bonyokdibogem warga yang kesal karena ada yang mencuri di daerahnya, atau mungkin mencuri dari orang yang mereka kenal, yang setiap…

Lihat pos aslinya 517 kata lagi