MANUSIA TERMANJAKAN OLEH RAMADAN

Bulan Ramadan disebut sebagai bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, bulan penuh pahala, bulan penghapusan dosa, dan lain sebagainya. Tidak bisa dipungkiri memang bulan Ramadan adalah bulan yang istimewa karena pada satu bulan tersebut terjadi fenomena fenomena pada masyarakat yang berbeda dengan sebelas bulan lainnya. Banyak aspek yang berbeda pada kehidupan masyarakat dalam penyambutan Ramadan, dari segi ekonomi, sosial, budaya, hingga persoalan urusan jiwa. Satu hal yang menonjol pada bulan Ramadan adalah, perubahan sikap atau tingkah laku umat yang menjalankannya.

 

Menurut saya, bulan Ramadan adalah bulan untuk berlatih. Disaat Ramadan, umat islam menjalakan puasa penuh selama satu bulan. Syarat utama puasa adalah menahan nafsu untuk makan dan minum dari dini hari hingga sore terbenamnya matahari. Dilihat dari ilmu psikologi, hal ini sangat bagus manfaatnya untuk melatih diri dalam menggunakan EGO atau otak manusia dalam mengontrol kebutuhan duniawi manusia yaitu ID. Kebutuhan asupan makanan dan minuman merupakan kebutuhan utama agar tubuh manusia tetap bisa bekerja dengan baik melalui asupan bahan bakar tadi. Akan tetapi, otak manusia yang menjalankan tubuh manusia terkadang tidak memperhatikan dengan baik bagaimana cara berdamai dengan kebutuhan manusiawi tadi. Semisal, orang yang sedang lapar gampang marah, seperti salah satu tagline iklan makanan “Lo rese kalo lagi laper”.  Dengan kita berpuasa, diharapkan kita mampu menjadi pribadi yang lebih sabar, berpikir baik atau menghindari kejahatan untuk pemenuhan kebutuhan diri tersebut.

 

Kembali pada judul di atas “Manusia Termanjakan Oleh Ramadan”, kebanyakan umat yang merayakan bulan Ramadan mereka lupa bahwa ada sebelas bulan lainnya yang harus dilewati. Maksudnya, mereka lebih giat menjalankan ibadah hanya pada bulan Ramadan saja. Hal ini dipengaruhi dengan adanya iming iming pahala dan janji surga yang sangat menggiurkan tercurahkan pada satu bulan ini. Padahal, beribadah pada bulan Ramadan adalah semudah mudahnya ibadah dijalankan dalam kurun waktu satu tahun. Kenapa? Karena banyak teman dalam menjalankannya. Lingkungan dan suasana mendukung. Banyak orang berpuasa jadi kita lebih gampang dalam menahan godaan lapar dan dahaga. Masjid rame jadi lebih sedikit bersemangat untuk mendatanginya. Di bulan Ramadan banyak orang berubah jadi super baik jadi kita tak perlu takut dalam menjalani hari. Ramadan memang sangat indah. Bahkan konon setan yang suka menggoda manusia pun dikurung pada bulan ini. Satu bulan bebas godaan setan. Akan tetapi ironisnya adalah, setelah selesai satu bulan Ramadan, mereka kembali lagi menjadi pribadi yang seperti bulan bulan sebelumnya. Ini jelas bertentangan dengan arti Idul Fitri atawa terlahir suci kembali.

 

Maka dari itulah di atas saya sebut Ramadan sebagai bulan latihan, karena ujian yang sebenarnya ada pada sebelas bulan lainnya. Seharusnya, manusia menjalani sebelas bulan tersebut sama halnya dengan saat menjalani Ramadan, betapa akan lebih indah kehidupan. Saat bulan Ramadan kita berlatih menjadi pribadi yang baik, saat lebaran tiba sudah berhasil menjadi pribadi tersebut, lalu jalani ujian sebelas bulan kemudian dengan penuh kebaikan. Jangan terjebak kemanjaan lalu hanya saat Ramadan kita menjadi pribadi yang penuh kebaikan, juga perlu diingat itu yang sebelas bulan.

 

Mistik dan Ilmu Pengetahuan

Manusia dengan pengetahuan yang terbatas selalu mencari dan mencari kepuasan untuk mengetahui apa yang ada di luar batas pemikirannya. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan manusia semakin menyadari bahwa masih banyak hal yang belum diketahui oleh pikirannya. Kemajuan di bidang astronomi dengan teori dan penelitiannya telah menjadikan bumi hanya sebagai suatu bongkahan yang melayang di alam raya diantara jutaan bongkahan lainnya. Para ilmuan mencari pengetahuan baru di ujung semesta dan meninggalkan bumi yang sudah diserap segala informasinya.

Bumi tempat tinggal manusia sejak zaman nenek moyang kita nabi Adam telah menjadi barang kuno bagi ilmu pengetahuan. Sudah tidak ada lagi misteri istimewa yang harus dipecahkan lagi oleh ilmu pengetahuan. Selayaknya manusia yang selalu haus akan pengetahuan, para ilmuan kini lebih tertarik mempelajari hal yang besar lainnya, yaitu misteri alam raya.

Matahari, bulan dan bintang yang dulu dipuja sebagai kekuatan agung jelmaan para dewa, kini hanyalah sebagai serpihan pecahan dari proses ledakan bintang yang lebih besar, yang terjadi jutaan tahun lalu (The Big Bang Theory).

Pengetahuan modern semakin hari semakin menyingkap misteri alam raya. Hal-hal yang dulu dipercaya oleh nenek moyang kita sebagai kekuatan di atas manusia telah menjadi dongeng belaka. Matahari sudah bukan lagi jelmaan dewa Ra seperti yang dulu diyakini oleh bangsa Mesir. Gerhana bulan bukanlah karena ada raksasa yang lapar lalu melahap sang dewi malam. Bagi penduduk Jawa sendiri, ratu pantai selatan sekarang hanya tinggal legenda yang sudah tenggelam bersama deras arus ombaknya samudera hindia.

Pertanyaannya adalah, benarkah manusia kini sudah menjadi penguasa atas bumi ataukah kekuatan yang dulu dipercaya sebagai hal gaib itu hanyalah semata-mata imajinasi hasil dari pengetahuan manusia yang terbatas?

Berbicara lebih lanjut mengenai hal gaib tadi, ilmu pengetahuan sepertinya secara sengaja menyingkirkan dan menghindari masalah kasat mata ini. Syarat pembuktian secara empiris tidak atau belum bisa dilakukan dalam persoalan sesuatu yang bersifat gaib, atau kasat secara indrawi. Ilmu pengetahuan nyatanya sudah berhasil merumuskan kandungan udara yang ada di permukaan bumi, hingga peneletian terhadap benda sekecil atompun telah dipahaminya secara jelas. Seandainya hal yang dianggap gaib tadi memang benar-benar ada, tentu ilmu pengetahuan belum mampu menganalisa dan mempelajarinya, karena sampai saat ini belum ada rumusan dan theory yang bisa dipelajari tentang hal gaib tersebut.

Dalam film bikinan Holiwood yang berjudul “Cabin In The Woods” sedikit disinggungkan bagaimana kemajuan ilmu pengetahuan sudah bisa berjalan sejajar dengan fenomena yang awalnya dianggap sebagai hal-hal gaib. Jika suatu saat nyata ilmu pengetahuan mampu menembus misteri ini, pastinya hal tersebut bisa diterima akal manusia karena memang keberadaan kekuatan gaib bisa dibuktikan oleh ilmu pengetahuan secara empiris dan ilmiah.

Untuk sekarang ini, hal yang berhubungan dengan permasalahan ini masih ditangani oleh ajaran agama dan kepercayaan budaya budaya tertentu. Sebagai contoh, ritual ritual yang dilakukan dalam berhubungan dengan hal gaib sering kali tokoh agama atau ahli spiritual yang menjalankan. Ketika ada orang yang dianggap dirasuki mahluk gaib maka orang tersebut akan disembuhkan melalui bacaan-bacaan ayat alkitab atawa mantra-mantra tertentu. Sedang para ahli kesehatan jiwa mungkin akan memiliki pendapat yang berbeda mengenai kasus ini.

Entah mengapa ilmu pengetahuan dan kepercayaan agama belum juga bisa saling berhubungan dengan baik, keduanya seperti tak bisa berjalan berdampingan. Namun jika dilihat secara seksama, baik ilmu pengetahuan ataupun kepercayaan agama berjalan di satu lintasan yang sama. Kepercayaan agama melihat sesuatu secara utuh garis besar, sedang ilmu pengetahuan melihatnya melalui detail rumusan ilmiah. Proses terciptanya alam raya misalnya, dalam kepercayaan agama diyakini bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dalam tujuh hari, dan disisi lain ilmu pengetahuan mempunyai teori mengenai proses tersebut, yaitu ledakan bintang besar atau The Big Bang Theory.

MENYAMBUT SEKS BEBAS SEJAK USIA DINI

Manusia sebagai mahluk yang sudah berevolusi, mempunyai berbagai macam cara untuk mendapatkan kenikmatan dalam menjalani kehidupan, melakukan hubungan seks adalah salah satunya. Kebutuhan mengenai seks merupakan kebutuhan alami manusia sebagai mahluk hidup. Dorongan syaraf agar bisa melepaskan tegangan yang tercipta dari mekanisme tubuh yang bertujuan untuk melakukan proses pembuahan sel telur dan melangsungkan keturunan spesies manusia inilah yang kini berubah menjadi persoalan kenikmatan dan kepuasan.

Berbicara mengenai seks bebas, hal ini bisa semata-mata bisa dikambing hitamkan dengan modernisasi. Meskipun orang mengenal persoalan berganti pasangan hubungan seks sudah dari zaman dahulu. Akan tetapi masyrakat kuno sepertinya mempunyai aturan tersendiri menyangkut hubungan seks yang hanya dilakukan ketika sudah didasari ikatan pernikahan (walaupun ada kisah salah satu kaum Nabi Luth yang membudayakan perilaku seks bebas). Perasaan dan permasalahan yang dimiliki oleh manusia juga memberi peran bahwa terkadang dibutuhkan lebih dari satu orang untuk melakukan hubungan seks semasa hidupnya. Manusia memang tidak bisa selalu setia dengan hanya satu pasangan dalam masa hidupnya, yang bahkan menurut beberapa penelitian ada jenis hewan yang setia hanya dengan satu pasangannya saja (konon salah satunya pinguin).

Pada era modern dimana informasi mudah menyebar dan mudah didapat, persoalan hubungan seks juga ikut terbawa dalam arusnya. Pembicaraan mengenai hubungan seks di luar nikah atau seks bebas yang dulu dianggap tabu kini rasanya menjadi hal lumrah dan biasa dalam kehidupan sosial. Bahkan, agama dan moral yang berperan besar dalam menanggulangi hal ini sudah tidak begitu kuat menahan aliran derasnya. Nilai moral yang tertanam tipis sejak dini tentu menghasilkan generasi yang tidak memperdulikan hal baik dan buruk secara seksama. Gelombang seks bebas yang terbawa arus modernisasi dengan kemudahan dan kebebasan berbagi informasinya telah memperkenalkan anak usia dini pada persoalan hubungan intim tersebut. Masalah ini menyebabkan hubungan seks sudah mulai dijalani sejak usia dini, khususnya para pelajar. Ditambah lagi mudahnya mengakses video porno juga sangat berpengaruh dalam perubahan nilai moral generasi bangsa yang baru menyambut era seks bebas ini.

Indonesia bisa dikatakan sebagai bangsa yang baru dalam memulai budaya seks bebas (yang mana tadinya masih kental nuansa budaya timur dengan penuh nilai norma dan aturan agama), karena negara belahan barat banyak yang sudah menjalani kehidupan seperti ini sejak lama. Artinya, banyak masyarakat Indonesia kini tidak lagi terikat dan takluk pada aturan moral dan agama yang jelas melarang hubungan seks di luar pernikahan. Kenyataan ini terlihat dari maraknya perilaku seks bebas tidak hanya dilakukan oleh orang yang telah dewasa tetapi juga anak usia dini, yang bahkan masih jauh untuk mendapatkan kartu tanda penduduk, sudah melakukan hubungan intim suami istri tersebut.

Peralihan tentang hubungan seks sebagai hal tabu menjadi sesuatu yang umum tentu menimbulkan berbagai riak permasalahan. Salah satunya yaitu ketidak siapan datangnya era seks bebas bagi bangsa Indonesia sendiri. Permasalahan ini memunculkan beberapa hal yang bisa dikategorikan sebagai efek negatif, antara lain yaitu penyebaran virus HIV, kehamilan yang tidak diharapkan, aborsi, maraknya prostitusi, depresi, dan juga kasus perkosaan.

Sebagai contoh ketidak siapan budaya seks bebas adalah, anak usia dini yang berpacaran kini sudah mempraktekan hubungan intim layaknya suami istri tanpa mengetahui pentingnya penggunaan alat pengaman atau yang disebut kondom. Ketika hubungan berpacaran telah putus dan kemudian masing masing mendapatkan pacar baru, kebanyakan akan tetap melakukan persetubuhan dan sering melupakan penggunaan jaket karet ini. Padahal kemungkinan berganti ganti pasangan pacar sangat masih besar jika dilihat dari usia tersebut. Beberapa yang masih terbutakan serta yang menganggap istimewa hubungan seks tetapi mereka melakukannya di luar pernikahan sering kali mengabaikan pentingnya alat pengaman ini.

Grup band Jamrud melalui lirik lagunya yang berjudul “Surti Tejo” menggambarkan persoalan seks bebas ini. Dalam lirik tersebut, Tejo, sebagai pemuda yang pulang ke kampung halaman setelah merantau mencari dana di kota, menemui Surti kekasihnya semenjak lulus SD. Mereka berdua kemudian melepaskan rasa rindu yang ada ditengah hamparan sawah hingga malam menjelang menyelimuti desa. Jari jemari Tejo bergerak lincah dan mulai berpiknik dari wajah sampai lutut Surti. Mereka berdua terbawa suasana mesra sehingga sarung dijadikan sebagai alas. Lalu saat Tejo melakukan aksi yang mirip demo memasak dengan memasang alat kontrasepsi berupa kondom didepan Surti, tiba tiba Surti menjerit serentak menutup matanya. Surti yang kecewa dan menangis akhirnya berlari seperti kesurupan lalu ditinggalkan disitu Tejo sendiri dengan kekakuannya. Sebenarnya yang dilakukan Tejo cukup benar dengan dia menggunakan kondom (yang mana bisa menghindari kehamilan yang tidak diinginkan). Perasaan risih ataupun stigma jelek yang muncul dari alat pengaman inilah yang justru membawa petaka bagi para pelaku seks bebas.

Untuk perenungan kita bersama, marilah kita tilik lagi keadaan masyarakat bangsa Indonesia ini. Siap atau tidakkah Indonesia menyambut budaya seks bebas? Atau mungkin lebih baik menghindari gelombangnya dengan selalu memperkuat pondasi moral dan ajaran agama pada generasi sekarang ini? Atau ada jalan lainnya?