Segala yang Tumpah

DHNIRWN

1

yang akhirnya kau banting ke lantai
pecah belah tercerai
meski sudah kususun rapi

yang kemudian kau remuk serpihan
ingatan pucat kenangan
padahal aku buang ke kubangan

yang lalu kau pendam dan menumpuk
katakata sumpah serapah busuk
walau aku bersiap yang terburuk

2

lalu turunlah segala yang tumpah
dan berdentuman melimpah
membuat mata basah
sudahlah

Lihat pos aslinya

Iklan

Seni Dalam Estetika, Pemaknaan Atas Pengalaman

bunyiseruling

Estetika adalah cabang ilmu Filsafat yang membahas masalah keindahan. Bagaimana keindahan bisa tercipta dan bagaimana orang bisa merasakannya dan memberi penilaian terhadap keindahan tersebut. Maka filsafat estetika akan selalu berkaitan dengan antara baik dan buruk, antara indah dan jelek.Bukan berbicara tentang salah dan benar seperti dalam filsafat epistemologi.

Seni yang kita kenal pada umumnya merupakan hal-hal indah, mulai dari seni musik, seni rupa, seni tari, seni peran, seni berperang (sun tzu, salah satu tokoh terkenalnya), dan akhir-akhir ini sedang populer pula seni mempercantik atau memperindah diri. Apabila pandangan mengenai seni adalah hal yang melulu mengenai keindahan, lalu bagaimana

Lihat pos aslinya 576 kata lagi

Hukum Kekekalan Energi

Kekal, mensiratkan sesuatu yang tahan lama, abadi, tak lekang oleh zaman, tak tergerus oleh waktu, tetap akan ada, dan lain sebagainya pengartian dan penjabarannya. Di sini sebenarnya saya tidak hendak berbicara mengenai fisika atawa ilmu ilmiah dengan penggunaan judul di atas. Namun, mungkin sedikit bersinggungan, agak. Dalam penerapan ilmu fisika sendiri, Hukum Kekekalan Energi berbunyi: “Energi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain tapi tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan.” Nah, berdasar pada prinsip tersebut, saya ingin membicarakan persoalan kekekalan energi ini, tetapi bukan dengan kacamata fisika.

Nurani saya tergerak menulis dengan judul di atas karena ada teman saya yang memberi caption “Hukum Kekekalan Energi” pada video yang dibagikan pada halaman facebooknya. Video tersebut menceritakan bagaimana kebaikan seseorang akan mendapat balasan kebaikan juga. Energi seperti inilah yang akan menjadi topik hangat saya.

Mungkin akan terkesan basi topik ini karena kita semua sudah tahu dan sudah diajarkan dari dulu kala, bahwa siapa menebar kebaikan pasti akan menuai kebaikan, siapa menebar keburukan pasti akan menuai keburukan, dan berbagai macam nilai moral lainnya. Tetapi, dalam perjalanan hidup kita, nilai nilai tersebut masih seringkali luput untuk dilakukan. Iya, karena kebanyakan dari kita masih terperangkap dalam logika manusia, dimana kita hanya akan melakukan sesuatu dengan pengharapan kita akan mendapatkan sesuatu. Hal ini sebenarnya wajar ada pada prinsip hidup manusia. Akan tetapi jika kita mau berlatih dan berusaha lebih keras lagi dalam melakukan kebaikan, maka kita bisa mencapai yang disebut logika tuhan, yaitu kita melakukan kebaikan untuk orang lain karena kita ingin melakukannya tanpa ada alasan atau pengharapan apapun. Inilah menurut saya kebijakan hidup yang sesungguhnya.

Jadi dengan adanya hukum kekekalan energi, saat kita bisa mengeluarkan energi kebaikan untuk orang lain, saya percaya energi positif tersebut akan kekal perwujudannya. Ketika kita menyalurkan energi tersebut pada orang lain, dan kemudian orang itu juga menyalurkan kepada orang lain, kemudian kepada orang lain lagi, dan akhirnya seluruh manusia di atas muka bumi saling menyalurkan energi kebaikan, ini bisa dipastikan alien tak akan menginvasi bumi. Jika kalian pernah menonton film “Pay It Forward” pastilah kalian bisa membayangkan kehebatan dari energi kebaikan ini. Akan tetapi jika belum, tontonlah. Atau seperti video klip lagunya Adele yang berjudul “Only One” kalo ga salah, kalo ga salah ya.

Ya gitu deh. Untuk yang masih melakukan kebaikan berdasar logika manusia yaudah tetep dijaga semangatnya. Sebarin benih benih kebaikan setiap saat. Nanti siapa tahu akhirnya kita bisa menjadi pribadi yang berlogika tuhan yang selalu tulus melakukan kebaikan kepada siapa saja. Sekian dulu, terima kasih.

NIETZSCHE – SANG BAYI (UBERMENSCH)

SKEPTICAL INQUIRY

Sang Bayi Yang Bermain

“Solusi” atas Modernitas (Sains) menurut Nietzsche

 

“Jangan-jangan yang namanya disiplin roh saintifik itu

memang dimulai dari pelarangan-diri atas segala bentuk keyakinan?”[1]

(Nietzsche, La Gaya Scienza (GS), Hal. 344)


“Modern”

Itulah nama yang menandai zaman kita dewasa ini.

Jika Shakespeare ada saat ini dan di sini, saya membayangkan bahwa ia akan bertanya,

“Apalah arti sebuah nama?[2] Apa artinya ‘modern’? Masihkah memiliki makna?”

Kata “modern” berasal dari kata Latin ‘moderna’, yang berarti ‘sekarang’, ‘baru’, atau ‘saat ini’. Jika kita mendasari pemahaman kita atas dasar pengertian tersebut, maka kita dapat mengatakan bahwa manusia senantiasa hidup dalam zaman “modern”, sejauh “kekinian” menjadi kesadarannya. Menurut para ahli, “kelahiran” zaman modern di Eropa itu sekitar tahun 1500. Lalu, “Apakah sebelum tahun 1500, manusia belum hidup di masa ‘kini’?” Tentunya TIDAK. Hal ini hanya ingin menunjukkan bahwa “kesadaran manusia akan ‘kekinian’ muncul di banyak tempat, khususnya di Eropa…

Lihat pos aslinya 2.659 kata lagi

Jual Beli Kepedulian

Tak ada manusia yang tidak butuh kehadiran manusia lainnya. Tak ada manusia yang benar benar ingin hidup dalam kesendirian. Semenjak kita terlahir ke dunia, kita sudah membutuhkan sentuhan manusia lainnya. Manusia berbeda dengan anak kuda yang bisa langsung berdiri dan tak perlu dicarikan rumput oleh sang induknya.
Kasih sayang dan kepedulian yang kita dapatkan sedari masih bayi, adalah sumber kekuatan manusia yang harus dihargai. Orang lain telah memberikan kita kehidupan. Tapi sebagai pribadi yang merasa kuasa akan dirinya, kita tak lagi peduli akan lainnya. Keegoisan kita mengantarkan prinsip untuk memberi sesuatu hanya pada orang yang kita harapkan pula pemberiannya. Hal ini seperti sistem barter atawa jual beli belaka. Hukum alam yang tercipta karena keegoisan manusia. Ketulusan menjadi hal yang langka. Tulus adalah kata yang indah, dan suatu kata yang indah untuk diwujudkan sangatlah tidak mudah. Dan aku semakin menjadi takut dalam melangkah.

Aku Lebih Mendamba Keningmu

Menenun detik bersamamu, hasrat ciptakan lembar senyum terkenang.
Merekah tatap dari kelopak yang telah kau hias, bekukan darahku.
Mengikat erat mungil jemarimu, beri udara tiap sela tubuh ini melayang.
Bertubi curah aksara aliri lekuk pelisan yang tipis, matikan syarafku.

Pedalaman rimba hatimu tunjukan keindahan alunan alam.
Keangkeran dongeng kuno yang mengiringi kini hanya reruntuhan.
Melaju jejakkan langkah beratku pada titian kokohmu.
Sadari bahwa rapuh yang ada hanyalah luka yang tak terbawa.

Aku temui dirimu tak bersayap.
Kulucuti sandangmu tak gemerlap.
Tertegun, batin yakini kau tetap bisa terbang.
Yakin, hati percayai kulitmu bersinar gemilang.

Aku dengan segala ketangguhanku terpana.
Persilahkan jiwa untuk menyapa.
Aku dengan tingkah liarku mulai merasa.
Jinak adalah harmoni dua nyawa.

Kemudian aku terilhami, tak harus oleskan basah pada bibir indahmu, aku lebih mendamba berikan kecup hangat pada keningmu.
Tuk tiap hela sisa nafasku.